Sabtu, 19 Desember 2015

Curahan hati seorang wanita

Saya pernah memintanya, sungguh. Saya juga pernah mengatakan dengan jelas bagaimana perasaan saya. Bahkan saya pernah memohon, dengar? Saya pernah memohon nak, tapi yang mereka lakukan adalah mendepak saya keras-keras. Dibanding saya, Hijaz jauh lebih penting. Dari hal itu saya menyadari satu hal, teman tidak akan membuatmu berlutut memohon.

-Pelajaran yg sangat berharga bukan? Meski utk mendapatkannya harus dengan mengorbankan segalanya #peluk bunda

Kamis, 10 Desember 2015

Tidakkah cukup?

Tidakkah cukup kalian menyakitiku sesering ini? Sedalam ini dan sesakit ini?
Tidakkah kalian mau sedikit berbelas hati?
Tidakkah kalian ingin berhentii sekejap saja utk membuat hatiku bernafas lega?
Ataukah kalian benar benar ingin membunuhku sedikit demi sedikit?
Apakah aku tidak ada harganya dmata kalian?

Jumat, 20 November 2015

Beginikah rasanya?

Apakah begini rasanya sakit hati?
Rasanya kecewa?
Marah dan merasa dkhianati?
Rasa itu bercampur menjadi satu.

Kubiarkan kalian menikam hatiku setiap saat, kubiarkan kalian mengabaikanku semau kalian, kubiarkan juga kasih sayangku tetap mengalir untuk kalian. Tanpa rencana, tanpa jeda, tanpa terbata-bata. Kubuat hatiku keras seperti baja tapi nyatanya tak bisa. Kulindungi perasaanku dengan segenap upaya tpi tetap saja binasa. Aku terpuruk, semoga suatu saat aku kuat saat memutuskan pergi bersama luka.

Selasa, 17 November 2015

Tanya

Bolehkah aku bertanya?
Saat klian mulai dekat dengan mas dnang, apakah kalian tidak memikirkan kmungkinan bahwa teman kalian yg lain akan tersakiti? Saya?
Saat klian mulai keluar bersama, bercanda, berfoto bertiga tidakkah klian akan berfikir bahwa saya cemburu?
Saat klian menyentuh2 tubuhnya, menyembunyikannya dari saya dan membuatnya menempel dengan kalian tidakkah kalian berfikir saya akan kecewa?
Saat salah satu dari kalian terlibat cinta bersama mas dnang dan berlanjut tidakkah klian berfikir klian menginjak harga diri saya? Meskipun sekarang kalian tau saya tak punya harga itu lagi?
Saat kalian menggantikan peran saya disisi mas dnang tidakkah kalian berfikir seberapa sesak yang saya rasakan?
Saat klian mulai menyebut2 kata mama dan mengobrol dengan sangat lugas, tidakkah klian berfikir mungkin saja saya marah?

Tidakkah klian berfikir luka yg kalian buat akan terasa lebih sakit saat kalian menyembunyikan kebenarannya dan saya mulai tau sedikit demi sedikit?

Saya tau, saya tidak memiliki hidup itu lagi. Allah meminjamkan kehidupan itu untuk saya dan berharap saya mengambil hikmahnya. Saya tau, Allah tidak akan memberikan saya cobaan diatas kemampuan saya. Allah terkadang berbelas kasih dan meniupkan pada saya ketegaran itu, tapi saat saya mengetahui kenyataan yg lain, kalian tidak mau berbelas hati dan membuat saya tersungkur kembali.

Hai teman-temanku..
Maukah klian melakukan satu hal yang sangat berat seperti saya melakukannya? Maukah kalian tidak lagi punya, bersama, atau ikatan apapun dengan Sona Danang Jati?

Senin, 16 November 2015

Sakit lagi

Tidak perlu membuat hati saya remuk karena hati sya sudah tak berbentuk.
Tidak juga butuh alasan lain untuk membuat saya terluka krna ckup dengan satu kalimat saya sudah buntung.
Saya tidak berjalan bahkan merangkak, saya hanya terbaring. Masih tersungkur dan berharap rentetan kejadian ini hanyalah mimpi.

Saya berdo'a sepanjang waktu, meratap dimanapun saya memejamkan mata.
Saya tau semua orang menyembunyikan fakta karna tidak ingin saya lebih terluka, tapi saya tau, meskipun mereka tidak mengatakannya.

Sabtu, 14 November 2015

Kalian tidak tau

Kalian tidak tau seberapa rasa kecewa yang aku rasakan, klian tidak tau betapa aku ingin memaki dan melontarkan semua pertanyaan2 itu kedepan kalian. Tapi aku menahan diri. Kutahan batinku agar tidak menjerit terlalu keras, kupaksa bibirku untuk tertawa sangat keras, kusembunyikan kemarahanku pada kelam malam dan dinginnya sejadah.

Aku masih menahan diri sekalipun aku sdar kalian tak setengah hati saat menyakiti. Kalian tau dan kalian sadar tapi tetap melakukannya. Kalian mengerti dan kalian paham tapi kalian tetap meneruskannya. Aku masih punya hati, maaf. Meskipun hati ini sudah tidak utuh lagi, aku masih berharap sisanya yg berserakan bisa terkumpul lagi.

Aku mencintainya, dia yang sekarang ada dalam genggaman kalian. Dia, yang sekarang ada pada pelukan salah satu dari klian. Benarkah klian menganggapku teman? Karena setauku, teman tak akan melanjutkan perlakuan apapun yang menyakiti teman lainnya.

Tapi terima kasih, telah membuatku melihat dengan sangat jelas, arti smua ini.

Minggu, 01 November 2015

Jarak

Dulu kita pernah sedekat nadi, tersenyum dan tertawa bersama. Saling bercanda dan mencubit berdua. Membunuh waktu dan menghabiskan kebersamaan yang ada. Saling lembar tatapan dan ciuman saat marah. Bertingkah konyol di mobil saat lagu "chandelier" diputar, berjoget dangdut saat karaoke berdua. Memeluk dari belakang dan pencium puncak kepala saat memasak untuk makan siang kita berdua, saling menjaga saat kita tidur siang di tempat yang sama. Pergi nonton atau makan berdua yang biasanya selalu kita awali dengan bermain di timezone atau funworld. Tapi lalu semuanya berubah.. Karena stu kesalahan kecil saya kehilangan kesempatan untuk menatapmu lebih lama, menciummu lebih takzim dan memelukmu lebih erat. Saya kehilangan kesemptan untuk berada di sampingmu dan meremas tnganmu saat ketakutan, saya lehilangan kesempatan untuk bercengkrama dan melihatmu tertawa lepas. Saya kehilangan banyak waktu sendirian untuk berangan-angan sedang apa kamu sekarang. Kamu tau? Apapum yang kamu lakukan untuk menjauh dari saya, kamu tetap ada dalam hati dan fikiran saya. Sekeras apapun kamu membuat saya membencimu, saya tetaplah orang yang memiliki rasa cinta sebesar dlu. Kita pernah sedekat nadi sebelum sejauh matahari.

Jumat, 30 Oktober 2015

Mencoba menyelesaikan segalanya

Terkadang jujur bisa sangat menyakitkan dan menghancurkan, karena itu dulu saya lebih memilih berbohong dan menyembunyikan semuanya ketimbang mengatakan dan menyakitinya.

Hingga sekarang saya masih bertanya kepada Allah. Dimana letak keadilan itu, meskipun saya tau Allah selalu adil. Saya hanya belum paham dimana letaknya. Kesakitan, sikapnya, perilakunya, kta2 kasarnya, saya selalu memaafkannya. Menganggapnya tidak pernah ada. Dulu tepat disisinya adalah tempat saya, tpi justru karena kesalahan saya pula lah saya membuatnya mendapatkan orang lain untuk menempati posisi itu.
Mencintai wanita itu seperti saya mencintainya. Berusaha sekuat mungkin agar wanitanya tidak merasa bersalah dan tersakiti karena saya. Menimpakan segala beban dan kesalahan pada pundak saya, menempatkan kesesakan dan air mata di relung hati saya. Saya tau saya kuat selama saya masih memiliki iman di hati saya, saya tau saya harus bertahan hidup untuk menebus kesalahan dan dosa saya. Saya tau seharusnya saya menyingkir jauh dari kehidupan dan hubungan mereka bertiga, tapi apa daya saya saat terkadang cemburu bisa membabi buta dengan begitu mudahnya? Saya tau menyesal tidaklah menyelesaikan segala hal. Tapi menyesal bisa menekan keinginan kita untuk tau, dan paham dimana letak kesalahan kita dan mulai memperbaikinya. E

Senin, 26 Oktober 2015

Rupa

Ya.. Dia cantik, mandiri, memiliki penghasilan sendiri, menyenangkan, baik, nggak tegaan. Saya tau. Saya tau, saya hanyalah sebutir pasir dibandingkan dia yang serupa pantai. Karena itulah saya membenci diri saya sendiri karena saya bukanlah pantai yang mampu membuat kamu jatuh cinta.

Senin, 19 Oktober 2015

Jujur

Kejujuran itu.

-"sebenarnya aku udah lama suka sama dia"
-"aku dan dia udah ciuman, mungkin lebih dari 10 kali, tanpa menyentuh apapun. Aku menghormati dan menghargainya"
-"pernah nonton di grand city dan tangannya tak gandeng"
-"pernah nggak pulang ke kos karna kekunci gerbangnya dan tidur di warnet lesehan 24 jam, dan disitu kami ciuman lama"

Jadi,, kenyataan apa lagi yang harus saya tau?

Minggu, 18 Oktober 2015

Nyesek

Saya tau kamu tidak mencintai saya, sudah tidak lagi mengasihi saya. Tapi tidak perlu sejalas dan terang2an seperti itu kan mencintainya di depan saya.
Nyesek..

Jumat, 16 Oktober 2015

Hal yang lucu

Seringkali hidup adalah hal yang lucu.
Kamu memaksa bibirmu tersenyum, menarik selebar-lebarnya untuk menunjukkan bahwa kamu baik-baik saja. Di hadapan orang lain, sakit dan kecewamu tak pernah berarti karena mreka tak merasakannya. Jadi kamu menikmati rasa sakit itu sendiri, memeluknya lebih erat saat durinya menancap lebih banyak, seolah kamu ingin merasakan semua sakit itu, semua luka itu agar berdarah sekarang, tak apa.. asal nantinya saat luka itu kering, duri yg sama tak akan menancap disana. Tapi itu hanya harapanmu saja kan? Nyatanya, lebih banyak duri yang menancap saat kamu memeluknya lebih erat dan sebelum kamu benar-benar menyadari darah kamu hampir habis karenanya, kamu sudah benar-benar remuk, luruh tak bersisa.
Seringkali hidup adalah hal yang lucu,
Kamu masih tetp mencintai dan mengasihi seseorang yng menghancurkanmu.

Kamu,, adalah aku.

Kamis, 15 Oktober 2015

Sempurna

Sempurna sudah, jatuh berdebam, terluka, berdarah, dan akhirnya luruh.
Itulah yg saya rasakan saat ini.
Tidak ada keinginan itu lgi, keinginan untuk ada, untuk hidup, melakukan apapun, mencapai tujuan, atau apapun. Sungguh saya tak ingin lagi melakukan hal apapun lagi, tidak ingin.
Sempurna sudah segala keinginan itu hilang dari akal saya,
Sempurna sudah jatuh dan skit yg saya alami,
Sempurna,
Sempurna sudah luka yg kalian buat,
Sangat sempurna. Terima kasih banyak.

Minggu, 11 Oktober 2015

Bersembunyi

Terkadang kita harus membuat keputusan tersulit yang akhirnya akan membuat kita terluka, dan kembali berjalan seakan tak pernah ada air mata. Bukan karena kita terlalu kuat menjalaninya, tapi hanya dengan cara itulah kita bertahan menyembunyikannya.

Kamis, 08 Oktober 2015

Sakit

Sudah berminggu-minggu, tapi hati saya belum juha membaik..
Sudah berbulan-bulan, tapi hati saya masih terluka, semakin dalam dan semakin berdarah.

Apa salah saya ke kalian bertiga?
Kenapa kalian sampai hati melakukan ini ke aku? Apa aku tidak seberharga itu?

Sabtu, 03 Oktober 2015

Janji

Apa itu janji?
Apakah anda pernah berjanji kepada seseorang tapi justru dia yang mengkhianatinya?
Saya pernah.

3 tahun saya hidup dalam rasa cinta yang menderu, mengutamakannya dan mengesampingkan diri saya sendiri. Memburu diri saya untuk menjadi lebih baik, lebih dari yang dia minta kalau bisa. Berjuang dalam hal apapun dengan kesungguhan yang belum pernah terlaksaba sebelumnya, hanya demi satu alasan. Lembut belaian telapak tangannya di kepala saya atas rasa bangganya.
Sampai hubungan kami kandas pun saya masih tetap memenuhi janji saya, untuk tidak menghapus kontak, dan merahasiakan pada 2 sahabat bahwa telah terbuka kenyataan sang mantan terkasih mencintai salah satu dari mereka. Alasan yang disebutkan membuat saya benar-benar nelangsa, "agar dia nggk terlalu merasa bersalah ke kamu, aku sayang dia, aku nggk mau dia sakit hati, dan dia sayang sekali sama kamu". Mungkin sang mantan berfikir bahwa orang yang diajaknya bicara sudah tidak punya hati lagi sehingha dia dengan mudahnya mengatakan itu. Tidak berartikah 2 thun saya bersamanya?

Tidak mengatakan apapun. Sederhana sebenarnya, cukup diam. Tapi hati meronta lebih kuat dari yang dibatasi, jiwa melolong lebih panjang dari yang didengar dan hati berdarah lebih dari yang saya tau. Andai saya bisa dan andai saya mampu.. Hal inilah yang ingin sekali saya katakan.

Kepada mantan terkasih,
Sayang...
Taukah kamu satu hal? Hingga detik ini, diatas semua sakit hati dan rasa kecewa yang kamu tinggalkan, saya masihlah pemilik cinta yang dulu, tidak berubah, berkurang sedikitpun tidak. Saya masihlah mencintai kamu sebesar dan sedalam dulu. Tapi taukah kamu sayang? Jika bisa kuputar waktu, satu hal yang ingin saya lakukan adalah, tidak membawa mereka diantara kita.
Sejujurnya, ya.. Saya menyesal membawa mereka diantara kita, dulu memang saya tidak berani menyebutkan alasannya, tapi sekarang kamu tau.

Untuk kedua sahabat saya,
Siapa saya bagi kalian?

Terima kasih untuk segalanya.

Jumat, 02 Oktober 2015

Kecewa

Kecewa..
Itulah yang saya rasakan saat pacar saya jauh lebih akrab dengan dua sahabat saya saat kami LDR.
Dua sahabat yang saya sayangi, yg seringkali keluar bersama saya dan pacar saya. Saya sangat kecewa, saat menyadari hubungan saya kandas di tahun kedua dan membuat mantan pacar saya itu menjadi jauh lebih rekat dengan kedua sahabat saya.
Kecewa, saat saya akhirnya tau.. Mereka jauh lebih sering menghabiskan waktu ber3, bercanda, srapan bersama, makan siang, makan malam, nonton bahkan membuat grup bertiga di chat entah whatsapp, line atau bbm. Saya justru tidak tau mantan saya menggunakan bbm sekarang. Semua akses kontak dblokir oleh mantan saya.
Sangat kecewa, sangaat sangaat kecewa saat ternyata mantan saya mengakui satu hal. Bahwa ternyata dia mencintai salah satu dari kedua sahabat saya, sahabat tempat saya bercerita hingga menangis saat saya ribut dengan pacar saya. Dan sialnya... Sahabat saya juga punya perasaan yg sama.
Mantan yg dulu tidak pernah memakai foto saya di aplikasi medsos apapun, yg tidak pernah menyebut nama saya satukalipun di medsosnya, mantan yang satu kalipun tidak memperkenalkan saya kepada teman-temannya justru melakukan itu kepada shabat saya yang dicintainya.
Ada rasa sesak, sakit sekali, dan penyesalan yang begitu dalam saat melihat kebelakang dan menyadari, justru sayalah yang membawa mereka bersama.
Sekarang,,, saya tak lebih dari seorang yg asing diantara mereka. Hanya orang asing.

Selasa, 22 September 2015

First place

3 tahun yang lalu..

Kampung kecil itu terasa asing. Untungnya saya memiliki seorang sahabat yang siap mengantar ke tempat favorit, toko buku.
Belum genap satu hari pindah, mata saya menangkap seseorang yang duduk di beranda rumah, berkaos putih. Sejenak menghentikan langkah dan kembali berjalan perlahan dalam waktu yang sama untuk sedikit lama mengingatnya.
Saya tersenyum gembira saat menyadari,, ternyata dia satu kelas dengan saya dan sama-sama berasal dari surabaya. Saya mengingat namanya,, saya mengingat rupanya. Saya menyadari satu hal, menginjak umur 18 thun saya baru merasakan jatuh cinta. Saya jatuh cinta kepadanya hanya dalam sekejap mata. Namaya Danang. Sona Danang Jati.